Langsung ke konten utama

Vaksin Malaria Bantu Turunkan Kematian Anak di Ghana, WHO Dorong Perluasan Program di Afrika

Foto seorang anak yang telah mendapatkan vasinasi. Foto: Independentespanol

KabaKito-Program vaksinasi malaria di Ghana menunjukkan hasil yang signifikan dalam menekan angka kematian anak akibat malaria. Temuan terbaru yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dilaporkan Reuters menunjukkan bahwa penggunaan vaksin malaria telah membantu mengurangi kematian anak di negara tersebut, sekaligus memperkuat dorongan untuk memperluas program serupa di berbagai negara Afrika.

Menurut laporan WHO yang dirilis pada 8 Mei 2026, evaluasi terhadap program vaksin malaria yang dilaksanakan di Ghana, Kenya, dan Malawi menemukan bahwa selama periode empat tahun, sekitar satu dari delapan kematian anak berhasil dicegah pada kelompok yang memenuhi syarat menerima vaksin. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet.

Reuters dalam laporannya pada 30 Januari 2026 menyebutkan bahwa Ghana menjadi salah satu negara yang mengalami kemajuan besar dalam menekan angka kematian akibat malaria pada anak-anak. Keberhasilan tersebut didukung oleh kombinasi vaksinasi, distribusi kelambu berinsektisida, peningkatan akses pengobatan, serta program pencegahan lainnya.

Kepala Program Imunisasi Ghana, Dr. Selorm Kutsoati, yang dikutip Reuters, menyatakan bahwa dua vaksin malaria yang saat ini digunakan membantu menutup kesenjangan dalam upaya pengendalian penyakit yang selama puluhan tahun menjadi penyebab utama kematian anak di Afrika. Salah satu vaksin dikembangkan oleh perusahaan farmasi GSK, sedangkan vaksin lainnya merupakan hasil pengembangan Universitas Oxford bersama Serum Institute of India.

WHO menjelaskan bahwa vaksin malaria tidak bekerja sendiri, melainkan menjadi pelengkap berbagai strategi pencegahan yang telah diterapkan sebelumnya. Berdasarkan data WHO, vaksin mampu mengurangi kasus malaria lebih dari 50 persen pada tahun pertama setelah tiga dosis diberikan kepada anak-anak.

Meski demikian, sejumlah lembaga kesehatan global mengkhawatirkan keberlanjutan program tersebut. Reuters melaporkan bahwa pemotongan bantuan internasional dari beberapa negara donor berpotensi menghambat distribusi vaksin ke negara-negara yang masih memiliki beban malaria tinggi. Aliansi vaksin global Gavi memperkirakan berkurangnya cakupan imunisasi dapat menyebabkan ribuan kematian tambahan di masa mendatang.

Malaria masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di Afrika. Sebagian besar korban meninggal merupakan anak-anak berusia di bawah lima tahun. Karena itu, WHO dan berbagai organisasi kesehatan internasional terus mendorong perluasan program vaksinasi malaria sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit secara jangka panjang.

Postingan Populer

Seruling Gading harimau Putih

Bag ; 39                 Menghawatirkan prahara yg hilang di barisan gaib cermin hidup Tetua bintang perak  yg berusaha menghindar dari lalat hijau yang tersimpan di barisan itu, begitu pula dengan teua awan putih dan si jakung berbudi yang mengeluarkan jurus-jurus andalanbmereka untuk melindungi diri mereka dari serangan lalat hijau,sambil berusaha menjauh dari kejaran lalat hijau . Setelah dapat menjauh dri lalat itu nereka kembali ke rombongan pendekar Para pendekar dan tetua mulai panik melihat wajah para tetua yang ilmunya tidak diragukan lagi terlihat wajah mereka  meneegang setelah dari jebakan itu begitu ,tambah tadi mereka mendengar suitan yang keras dari tetua bintang perak yang dialiri hawa sakti yang kuat. “Pasti ada sesuatu yang berbahaya  tersimpan di jebakkan itu”..kata pengemis dekil dalam hatinya “ada apa tetua ?”. Sahut lamtian dengan pendekar muda lainnya yg penasaran tentang apa yg di hadapi oleh para tetua. “Gil...

Ku Jajaki Kembali

 Ku jajaki kembali Kembali ku langkahkan kaki Menginjak rumput yang tak bersimpati Kulihat bayangan pun telah lari Dedaunan melambai pergi Ku pikir inilah akhirnya  Semua hal itu telah sirna Dimakan ruang dan waktu Bernostalgia hal ku mampu Meingat segala hal yang pernah tertuju Segala yang melukis tawa Pun melukis senyum di mata Apalah dayaku saat ini Melihat semua tak sama lagi Tak ada yang ku lihat Kecuali sedih di hati ini  Sapu lidi yang begitu kuat Ternyata kelamaan longgar juga Siapa yang tau hidup ini Manusia mudah datang dan pergi  Tanpa renungan di sanubari Ku tersadar  Semua tak akan sama lagi

Harapanku

 Perubahan suatu keniscayaan  Niscaya suatu berubah pada waktunya Begitu juga kekuatan ini Akan lemah pada waktunya Ku lihat batu yang mulai pecah kena air Ku lihat daun bergoyangan karena angin Ku lihat sekitarku berubah karena waktu Tak semua hal itu sekarang tetap ada Semua berangsur terkikis Apalah daya insan yang bernostalgia  Merindu segala kebersamaan saat itu  Meski semua sekarang berbeda Tak da larangan untuk berusaha Tak ada usaha yang mudah Semua butuh usaha dan susah payah Meringkus kehadirat tuhan Kembalikan hal itu semula Engkaulah yang maha menyatukan  Engkaulah yang mah mengabulkan 

Pemimpin G7 Dorong Stabilitas Global di Tengah Ketegangan Geopolitik

Foto: dts Nachrichtenagentur /IMAGO kabakito—Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang berlangsung pada 15–17 Juni 2026 di Évian-les-Bains, Prancis, menjadi ajang pembahasan berbagai isu global yang tengah menyita perhatian dunia. Konflik di Ukraina serta perkembangan diplomasi terkait Iran menjadi dua agenda utama dalam pertemuan para pemimpin negara tersebut. Para pemimpin negara anggota G7, yakni Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang, bersama perwakilan Uni Eropa, membahas langkah-langkah konkret untuk menjaga stabilitas internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Terkait Iran, sejumlah negara Eropa mendorong tercapainya kesepakatan yang lebih komprehensif dalam perundingan yang sedang berlangsung. Mereka berharap kesepakatan tersebut tidak hanya berfokus pada isu nuklir, tetapi juga mampu menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, konflik Rusia–Ukraina tetap menjadi perhatian utama dalam forum tersebu...