Perayaan 100 Tahun Jam Gadang di Kota Bukittinggi tidak hanya menjadi momentum memperingati usia satu abad ikon Sumatera Barat tersebut, tetapi juga menjadi sarana memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Menurut laporan ANTARA yang terbit pada 8 Juni 2026, peringatan satu abad Jam Gadang melibatkan berbagai kegiatan budaya, literasi, dan pendidikan yang diikuti peserta dari berbagai negara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat dunia.
Dalam pemberitaan ANTARA, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, menyebut perayaan 100 Tahun Jam Gadang sebagai bentuk nyata diplomasi budaya yang memanfaatkan kekuatan literasi, seni, dan warisan budaya untuk membangun hubungan antarbangsa.
Denny Abdi mengatakan bahwa budaya merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat saling pengertian dan kerja sama antarnegara. Melalui kegiatan yang melibatkan peserta internasional, Indonesia dapat memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat global sekaligus memperkuat citra bangsa di mata dunia.
Perayaan tersebut diisi dengan berbagai agenda, mulai dari festival literasi, seminar internasional, pertunjukan seni budaya Minangkabau, pameran sejarah Jam Gadang, hingga kegiatan yang melibatkan pelajar dan masyarakat umum. Kehadiran peserta dari berbagai negara juga menjadikan peringatan ini sebagai ajang pertukaran budaya dan pengetahuan.
Jam Gadang sendiri merupakan landmark Kota Bukittinggi yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Sumatera Barat. Menurut Pemerintah Kota Bukittinggi, peringatan satu abad Jam Gadang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal.
Selain menjadi simbol sejarah, Jam Gadang juga dianggap sebagai identitas masyarakat Bukittinggi yang telah melewati berbagai fase perkembangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perayaan 100 tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai peringatan usia bangunan, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Minangkabau.