KabaKito-Perusahaan rintisan (startup) teknologi asal Jepang, PowerX, mengumumkan kemajuan dalam pengembangan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang diklaim mampu terisi hingga 80 persen dalam waktu sekitar 10 menit. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi solusi atas salah satu tantangan utama kendaraan listrik, yakni lamanya waktu pengisian daya dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Menurut laporan Reuters yang terbit pada 10 Juni 2026, PowerX tengah mengembangkan teknologi baterai generasi baru yang dirancang untuk mendukung pengisian daya cepat tanpa mengurangi umur pakai baterai secara signifikan. Teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap pengujian sebelum diproduksi secara massal. (Sumber: Reuters, 10 Juni 2026).
Chief Executive Officer (CEO) PowerX, Masahiro Ito, mengatakan bahwa percepatan waktu pengisian daya menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan adopsi kendaraan listrik di berbagai negara. Menurutnya, pengguna kendaraan listrik menginginkan pengalaman pengisian daya yang semakin mendekati waktu pengisian bahan bakar pada kendaraan konvensional.
Dalam wawancara yang dikutip Reuters, Ito menyatakan bahwa perusahaan berupaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan efisien untuk penggunaan jangka panjang.
Selain mengembangkan baterai, PowerX juga membangun jaringan stasiun pengisian daya cepat di Jepang. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan teknologi yang dikembangkan dapat didukung oleh infrastruktur yang memadai ketika mulai dipasarkan.
Perkembangan teknologi baterai menjadi perhatian industri otomotif global seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik. Sejumlah produsen otomotif besar di dunia juga berlomba mengembangkan baterai dengan kapasitas lebih besar, masa pakai lebih lama, dan waktu pengisian yang lebih singkat.
Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya melaporkan bahwa penjualan kendaraan listrik global terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan waktu pengisian yang relatif lama masih menjadi tantangan di berbagai negara.
Pengamat industri otomotif menilai bahwa jika teknologi pengisian cepat dapat diterapkan secara luas, maka hambatan psikologis konsumen terhadap kendaraan listrik akan semakin berkurang. Hal tersebut berpotensi mempercepat transisi menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.